Pada
tanggal 13 September 2014 FASILKOM Universitas Sriwijaya khusus prodi Sistem
Informasi mengadakan Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Aplikasinya
untuk ke-3 kalinya. Sebelumnya juga pernah diadakan konferensi pada tahun 2009,
2011 dan diharapkan juga dapat dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya.
Konferensi
kali ini mengangkat tema “Tata Kelola Keamanan Sistem Informasi di Indonesia”.
Konferensi yang diadakan di gedung Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya dibuka
dengan sambutan Rektor Universitas Sriwijaya. Dan selanjutnya diadakan acara
seminar Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Aplikasinya (KNTIA).
Berikut
Ringkasan singkat dari Seminar Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan
Aplikasinya.
Dalam
acara Seminar KNTIA, panitia pelaksana Seminar menghadirkan dua pembicara
Nasional yaitu Dr.Hasyim Gautama selaku pejabat Kementrian Komunikasi dan
Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI) dan Fetri Miftach selaku Praktisi
Keamanan Informasi.
Seminar
ini dimulai dengan pembicara pertama yaitu Dr.Hasyim Gautama. Beliau membahas
tentang Tata Kelola Keamanan Sistem Informasi di Indonesia. Dr.Hasyim
menjelaskan tentang pentingnya sebuah informasi yang berkedudukan sebagai aset
yang berharga dan perlu diamankan. Kamanan jaringan internet terhadap lalu
lintas data dan informasi saat ini harus mendapatkan prioritas utama dalam
suatu institusi, hal ini tidak terlepas dari mudahnya beberapa pihak mengakses
informasi dengan menggunakan jaringan internet. Informasi adalah aset penting
yang perlu dilindungi agar tidak dicuri oleh orang yang tidak bertanggung
jawab.
Dr.
Hasyim menjelaskan mengenai CIA adalah sebuah parameter umum yang digunakan
untuk menilai baik atau buruknya suatu keamanan pada suatu jaringan. Keamanan
dapat ditinjau dari tiga aspek yaitu: Convidentiality (kerahasiaan), Integrity
(Integritas), Availability (ketersediaan) suatu informasi. Beliau juga
menyampaikan riset tentang standar keamanan di Indoneia dan memberikan tips
atau trik sertifikasi negara-negara di ASIA.
Dari
penjelasan Dr. Hasyim tersebut masuklah pada sesi tanya jawab. Pertanyaan yang
datang dari saudari Kiki, dengan asal Institusi STTELKOM YOGYA mengenai
bagaimana kendala pengamanan di Indonesia? Pengaruh tingkat kesadaran keamanan
dengan perkembangan IT, kebutuhan sertifikasi, solusi dan saran?. Dr.Hasyim
menjelaskan bahwa penerapan keamanan yang rendah karena (ISO) dipengaruhi oleh
harga yang mahal. Selain sertifikasi nasional dikelola oleh lembaga asing, hal
ini membuat rendah tingkat kesadaran. Hal yang harus dilakukan atau diharapkan
adalah konsisten atau komitmen menggunakan IT.
Setelah
selesai pada pembicara satu, maka pembicara ke dua Fetri selaku Praktisi Keamanan
Informasi menyampaikan materi. Fetri mambahas tentang Informational Security
Governance mencakup kelayakan informasi keamanan. Yang menarik dari penjelasan
beliau dengan menjelaskan dengan analogi sebuah kendaraan. Sistem keamanan pada
kendaraan dibuat untuk apa? Bukan untuk berhenti tetapi untuk dapat menambah
kekuatan laju mobil agar aman. Begitupula dengan keamanan sistem informasi
digunakan agar dapat menyimpan data.
Bagaimana
dengan standar yang ada? Fetri menjelaskan bahwa dengan keamanan dapat
memberikan jaminan keuntungan dalam dunia bisnis dengan aman. Beliau juga
menambahkan tata cara perusahaan beroperasi, dan keamanan adalah bagian yang
penting. Kemanan dibuat untuk membatasi bagian minimum jika dilihat dengan
kesesuaian yang diterapkan di Indonesia. Apakah sudah memenuhi standar?
Jawabannya adalah Iya, tetapi dengan standar yang sama dengan kualitas yang
berbeda. Ditegaskan bahwa keamanan merupakan kontrol dan ukuran efektif dan
efisien keamanan.
Satu
pertanyaan penutup pada sesi kedua ini. Pertanyaan datang dari saudara Harry
dari institusi STIM Tanggerang. Kapan penerapan keamanan? Perlu diterapkan
peraturan (ketegasan peraturan) pengaruh tata kelola (penerapan yang meyakinkan
pembisnis dan institusi untuk mengeluarkan dana dalam mengamankan informasi)
harus dilakukan untuk menunjang kesuksesan usaha. Dan bagaimana statment
penyerangan / dalam perlawan mengenai keamanan? Sosialisasi engineering?
Fetri
kembali menjelaskan dengan sikap Indonesia sebagai mahluk yang ramah, dan
terbuka. Hacker dengan kebijakan pemerintah adalah Warning ! sebab seseorang
harus memiliki kode etik untuk memperoleh sertifikasi yang seharusnya didukung
dengan skill (tenaga ahli) agar dapat mengaudit apalagi untuk sistem
pemerintahan. Sebenarnya menurut beliau tujuan IT adalah untuk menumbuhkan hak
untuk dilindungi.
Terakhir
dari penjelasan kedua pembicara tersebut moderator meyampaikan kesimpulan dari
Seminar KNTIA. Kemudian ditutup oleh moderator Seminar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar