Rabu, 17 September 2014

Seminar KNTIA 2014



Pada tanggal 13 September 2014 FASILKOM Universitas Sriwijaya khusus prodi Sistem Informasi mengadakan Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Aplikasinya untuk ke-3 kalinya. Sebelumnya juga pernah diadakan konferensi pada tahun 2009, 2011 dan diharapkan juga dapat dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya.
Konferensi kali ini mengangkat tema “Tata Kelola Keamanan Sistem Informasi di Indonesia”. Konferensi yang diadakan di gedung Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya dibuka dengan sambutan Rektor Universitas Sriwijaya. Dan selanjutnya diadakan acara seminar Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Aplikasinya (KNTIA).
Berikut Ringkasan singkat dari Seminar Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Aplikasinya.
Dalam acara Seminar KNTIA, panitia pelaksana Seminar menghadirkan dua pembicara Nasional yaitu Dr.Hasyim Gautama selaku pejabat Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI) dan Fetri Miftach selaku Praktisi Keamanan Informasi.
Seminar ini dimulai dengan pembicara pertama yaitu Dr.Hasyim Gautama. Beliau membahas tentang Tata Kelola Keamanan Sistem Informasi di Indonesia. Dr.Hasyim menjelaskan tentang pentingnya sebuah informasi yang berkedudukan sebagai aset yang berharga dan perlu diamankan. Kamanan jaringan internet terhadap lalu lintas data dan informasi saat ini harus mendapatkan prioritas utama dalam suatu institusi, hal ini tidak terlepas dari mudahnya beberapa pihak mengakses informasi dengan menggunakan jaringan internet. Informasi adalah aset penting yang perlu dilindungi agar tidak dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Dr. Hasyim menjelaskan mengenai CIA adalah sebuah parameter umum yang digunakan untuk menilai baik atau buruknya suatu keamanan pada suatu jaringan. Keamanan dapat ditinjau dari tiga aspek yaitu: Convidentiality (kerahasiaan), Integrity (Integritas), Availability (ketersediaan) suatu informasi. Beliau juga menyampaikan riset tentang standar keamanan di Indoneia dan memberikan tips atau trik sertifikasi negara-negara di ASIA.
Dari penjelasan Dr. Hasyim tersebut masuklah pada sesi tanya jawab. Pertanyaan yang datang dari saudari Kiki, dengan asal Institusi STTELKOM YOGYA mengenai bagaimana kendala pengamanan di Indonesia? Pengaruh tingkat kesadaran keamanan dengan perkembangan IT, kebutuhan sertifikasi, solusi dan saran?. Dr.Hasyim menjelaskan bahwa penerapan keamanan yang rendah karena (ISO) dipengaruhi oleh harga yang mahal. Selain sertifikasi nasional dikelola oleh lembaga asing, hal ini membuat rendah tingkat kesadaran. Hal yang harus dilakukan atau diharapkan adalah konsisten atau komitmen menggunakan IT.
Setelah selesai pada pembicara satu, maka pembicara ke dua Fetri selaku Praktisi Keamanan Informasi menyampaikan materi. Fetri mambahas tentang Informational Security Governance mencakup kelayakan informasi keamanan. Yang menarik dari penjelasan beliau dengan menjelaskan dengan analogi sebuah kendaraan. Sistem keamanan pada kendaraan dibuat untuk apa? Bukan untuk berhenti tetapi untuk dapat menambah kekuatan laju mobil agar aman. Begitupula dengan keamanan sistem informasi digunakan agar dapat menyimpan data.
Bagaimana dengan standar yang ada? Fetri menjelaskan bahwa dengan keamanan dapat memberikan jaminan keuntungan dalam dunia bisnis dengan aman. Beliau juga menambahkan tata cara perusahaan beroperasi, dan keamanan adalah bagian yang penting. Kemanan dibuat untuk membatasi bagian minimum jika dilihat dengan kesesuaian yang diterapkan di Indonesia. Apakah sudah memenuhi standar? Jawabannya adalah Iya, tetapi dengan standar yang sama dengan kualitas yang berbeda. Ditegaskan bahwa keamanan merupakan kontrol dan ukuran efektif dan efisien keamanan.
Satu pertanyaan penutup pada sesi kedua ini. Pertanyaan datang dari saudara Harry dari institusi STIM Tanggerang. Kapan penerapan keamanan? Perlu diterapkan peraturan (ketegasan peraturan) pengaruh tata kelola (penerapan yang meyakinkan pembisnis dan institusi untuk mengeluarkan dana dalam mengamankan informasi) harus dilakukan untuk menunjang kesuksesan usaha. Dan bagaimana statment penyerangan / dalam perlawan mengenai keamanan? Sosialisasi engineering?
Fetri kembali menjelaskan dengan sikap Indonesia sebagai mahluk yang ramah, dan terbuka. Hacker dengan kebijakan pemerintah adalah Warning ! sebab seseorang harus memiliki kode etik untuk memperoleh sertifikasi yang seharusnya didukung dengan skill (tenaga ahli) agar dapat mengaudit apalagi untuk sistem pemerintahan. Sebenarnya menurut beliau tujuan IT adalah untuk menumbuhkan hak untuk dilindungi.
Terakhir dari penjelasan kedua pembicara tersebut moderator meyampaikan kesimpulan dari Seminar KNTIA. Kemudian ditutup oleh moderator Seminar.

Tidak ada komentar: